Aku seorang anak dari kampung perbatasan
di Pulau Jawa. Ayahku sangat pekerja keras. Setelah fajar menyingsing Ia sudah
ke sawah. Siang hari di rumah istirahat setelah lelah dari sawaj. Sore hari Ayahku
sudah berkutat dengan pekerjaan lainnya. Disisi lain Ibuku sangat penyayang, ia
tak pernah memiliki kesibukan, kasih sayangnya penuh di berikan ke anak
anaknya.
Usiaku sekarang sudah 21, aku telah
duduk di universitas swasta di Ibukota Pulau Jawa. Sore ini aku benar benar
merasakan sakit hati. Aku menyesal atas apa yang telah kulakukan. Saat
menginjak remaja, beberapa lelaki mengaku mendapatkan nomor ponsel saya karena
salah sambung, namun anehnya kuladeni mereka bukan mengabaikannya. Efeknya dari
hari itu sampai aku ke universitas seringnya kami pergi keluar rumah melakukan
hubungan mesum.
Sampai pada suatu ketika Allah
mengingatkanku. Aku tersadar Allah murka terhadap orang yang berzina, karena
termasuk 10 dosa besar. Hancur hatiku, aku belum bisa membanggakan kedua orang
tuaku dengan sebuah prestasi, namun aku setiap hari memberikan dosa pada
ayahku. Orang tuaku tidak pernah menanyakan tentang hubunganku dengan lelaki
ini. Saat sang pria datang ke rumah, ayahku tak pernah mempermasalahkannya. Ayahku
dan keluargaku menganggap wajar hal ini.
Sore ini ditengah kegaluan ini,
kuputuskan untuk menyegerakan istirahat. Kuharap besok ketika aku bangun Allah
memberikan aku solusi.
Fajar
telah menyingsing. Pagi ini aku sengaja ke masjid kampus. Saat di masjid, tak
sengaja aku bertemu teman rombel PAI ku, Salsa. Aku ngobrol serius dengan Salsa
mengenai diriku ingin sekali mengaji. Akhirnya Salsa mengajakku untuk ikut
kelompok mengajinya sepekan sekali di masjid kampus setelah mendapat
persetujuan ustadzah.
Alhamdulillah sebulan sudah mengajiku
telah berlangsung. Kedekatanku pada ustadzah terus terjalin. Pada pekan keenam
pertemuan mengaji di masjid kampus, saya memohon izin pada ustadzah untuk
ngobrol secara pribadi. Acara mengaji selesai dan teman-teman kelompok
mengajiku telah meninggalkan masjid kampus. Saya dan ustadzah tetap berada di
lantai tiga masjid, yakni tempat sholat putri. Kuceritakan pada ustadzah tentang
apa yang ku alami. Air mataku tak bisa kubendung saat bercerita tentang kisahku
pada ustadzah. Aku telah berzina berkali-kali saat pacaran dengan lelaki yang
bilang mendapatkan nomor ponselku dengan alasan nyasar itu. Aku sangat takut
karena zina ialah dosa besar. Terlebih aku takut Allah tidak mengampuni orang
yang berzina sepertiku.
Setelah
cerita ku telah usai. Ustadzah memelukku, membiarkan aku untuk tenang terlebih
dahulu. Selanjutnya tetiba ustadzah menanyakan “Apakah Mbak tahu sosok Abu
Hurairah?” Ku jawab “Oh yang ada dihadist hadist itu ya ust?” Iya betul. Dengarkan
sebentar ya, ada kisah tentang beliau yang bisa menenangkan dirimu, dan bisa
jadi solusi atas kejadian ini.
Suatu malam, Abu Hurairah keluar rumah
setelah shalat ‘isya. Tetiba ada seorang wanita bercadar memanggil Abu Hurairah
“Wahai Abu Hurairah! Sungguh aku telah
melakukan perbuatan dosa besar. Masih adakah kesempatan bagiku untuk bertaubat?”
Lalu Abu Hurairah bertanya kepada wanita
tersebut “Apakah dosamu itu?”
Wanita itu menjawab, “Aku telah berzina dan membunuh
anakku dari hasil zina itu.”
Abu Hurairah berkata “Kau telah binasakan
dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan
bertaubat bagimu.”
Tentu
perempuan ini menangis, menjerit mendengar ucapan Abu Hurairah.
“Tapi
sebentar mba, ada cerita lanjutannya” ucapnya padaku,ustadzah pun melanjutkan
cerita tentang Abu Hurairah.
Perempuan yang bertanya tadi setelah
menangis kemudian pergi. Kemudian Abu Hurairah bergumam di dalam hati, “Aku
berfatwa, padahal Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam ada di tengah-tengah
kita?” Astaghfirullah. Keesokan hari Abu Hurairah menemui Rasulullah
Shollallahu Alaihi Wassalam, kemudian Abu Hurairah menceritakan apa yang telah
ia lakukan pada wanita bercadar kemarin.
Abu Hurairah berkata, “Wahai
Rasulullah! kemarin ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku, tentang ini dan
ini” Abu Hurairah menceritakan kejadiannya dan apa yang telah ia ucapkan kepada
wanita tersebut pada Rosul. Setelah mendengar penjelasan dari Abu Hurairah,
Baginda Shollallahu Alaihi Wassalam bersabda,
“Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi
Allah, celakalah engkau dan
telah mencelakakan orang
lain. Tidakkah kau ingat ayat ini Quran di Surah Al-Furqan ayat 68-70”
Coba
Mbak, Buka Qurannya, tadi bawa ya saat ngaji, Coba Mba baca artinya” Perintah
Ustadzah padaku, lalu aku membaca artinya
“Dan orang-orang yang
tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,
barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)
dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan
dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat,
beriman dan mengerjakan amal soleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Kemudian Abu Hurairah
keluar dari sisi Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam dan berlari menyusuri jalan
Madinah mencari wanita yang kemarin meminta fatwa pada Abu Hurairah. Saat menjelang
larut malam, akhirnya Abu Hurairah menemukan wanita bercadar tersebut. Maka Abu Hurairah segera memberitahukan pada wanita
itu seperti apa yang dikatakan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam bahwa dia
boleh sekali bertaubat, Lalu wanita itu kegirangan. Kemudian wanita tersebut berkata,
“Kebun yang kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin kerana
dosaku.”
Kini
aku menjadi sadar, kesempatan, jatah hidup yang sekarang saya terima merupakan
nikmat Allah. Saya diberikan kesempatan memilih jalan taubat. Sejak hari ini
kuputuskan untuk melakukan banyak kebaikan di masyarakat. Lalu aku tambah porsi
sayangku pada ayah ibuku. Aku lega Alhamdulillah walaupun zina ini merupakan
dosa besar namun pintu taubat selalu menantiku. Allah memang Maha Pengampun.


Posting Komentar
Posting Komentar